Senin, 09 Desember 2019

Kedai " Semoga Berkah" di Tuapeijat

SASARAINAFM.COM | TUAPEIJAT- Dua minggu menjelang hari Raya Natal 2019, sebagian harga Sembilan Bahan Kebutuhan Pokok ( Sembako) di desa Tuapeijat, Ibu Kabupaten Kepulauan Mentawai mulai menunjukkan lonjakan kenaikan harga.

Darsi (27) salah seorang  pemilik kedai " Semoga Berkah" di Tuapeijat mengatakan kenaikan harga sembako merupakan hal yang wajar dan biasa apalagi menjelang datangnya hari raya.

"Kalau harga PMD biasa saja, hanya harga sayur yang biasanya berubah setiap minggu, itu wajarlah kan biasanya seperti itu kalau menjelang hari raya, "  ujar Darsi, Selasa (10/12) di Tuapeijat.

Terkait pemasokan stok persediaan bahan pokok menjelang Natal 2019, diakui Darsi memang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, hal ini kata Darsi mungkin terkait dengan semakin banyaknya kedai penyedia PMD atau Sembako di Tuapeijat.

"Saat ini kedai sudah banyak di Tuapeijat, jadi pasokan kita biasa saja, tidak seperti tahun sebelumnya kita memasok banyak," tuturnya

Meski belum menimbulkan keluhan di masyarakat, namun berdasarkan pantauan reporter sasarainafm.com  dilapangan, beberapa harga Sembako sudah mengalami kenaikkan harga, seperti harga  telur Rp 45.000 per 30 butir, minyak manis Rp 13.000 per  kilogram, kemudian harga
cabe merah dan cabe rawit Rp 40.000 per  kilogram, cabe giling Rp 30.000.
Sementara harga sembako lainnya seperti bawang putih dan
bawang merah Rp 28.000  per kilogram,
gula Rp, 14.000 per  kilogram, beras kampung  Rp 15.000 per kilogram,
sayur wortel Rp 12.000 per  kilogram, dan sayur sawi Rp 8000 per kilogram.
(KS)

Sat Pol PP bersama BKPSDM Mentawai Lakukan Pemantauan PNS di dermaga Tuapeijat, Senin (10/12)
SASARAINAFM.COM | TUAPEIJAT - Dalam rangka menegakkan kedisiplinan terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) setempat dampingi Badan Kepegawaian Peningkatan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) melakukan pemantauan PNS di dermaga Tuapeijat.

Kepala Bidang PPHD Dinas Sat Pol PP dan Damkar Mentawai Gani menyebutkan bahwa pihaknya memang diinstruksikan atasan untuk memantau PNS di dermaga Tuapeijat bersama BKPSDM, guna meningkatkan kedisiplinan PNS di lingkungan Pemkab Mentawai.

"Kita diintruksikan untuk hari ini mendampingi kegiatan BKPSDM mengecek PNS yang datang dari Padang dengan kapal Mentawai Fast pada hari kerja, setelah kita cek, selanjutnya kewenangan BKPSDM untuk mengambil tindakan, tentu mengacu kepada aturan," terangnya kepada wartawan, Senin (10/12).

Menurutnya pengawasan terhadap PNS menjelang libur akhir tahun dan bertepatan dengan perayaan Natal dan Tahun baru, semakin diperketat, jangan sampai ada PNS yang libur sebelum tanggal yang sudah ditetapkan.

" Kita tidak tau pasti yang jelas khusus hari ini kita diperintahkan  mendampingi BKPSDM, tetapi kalau kita lihat, BKPSDM melakukan pemantauan langsung ke kapal itu tentu untuk menegakkan kedisiplinan, kemudian menjelang libur akhir tahun, dikuatirkan ada oknum PNS yang libur sebelum tanggalnya," tukasnya.

Di tempat yang sama Kabid Ops dan Intelejen Ren Yani juga menuturkan hal senada bahwa pihaknya membantu BKPSDM dalam melakukan pengawasan, lepas dari itu merupakan kewenangan BKPSDM.

"Hasil pemantauan kita hari ini, kita menemukan sejumlah PNS yang pulang dari Padang, tetapi mereka memiliki surat perintah tugas, kebetulan ada kegiatan Pesparani di Padang, kemudian ada juga surat keterangan izin, tetapi bagi yang tidak memiliki keterang jelas, maka dianggap melanggar kedisiplinan PNS, " pungkasnya. (Red).
Anak - anak Mentawai dalam salah satu kegiatan kesenian Mentawai.

SASARAINAFM.COM | TUAPEIJAT-  Meski telah masuk pada kurikulum pelajaran  muatan lokal, ternyata penerapan pelajaran Budaya Mentawai (Bumen) masih dirasakan belum maksimal.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mentawai, Lauren Saruruk mengatakan tidak maksimalnya penerapan mata pelajaran Budaya Mentawai itu salah satunya disebabkan masih kurangnya guru untuk mengajar budaya Mentawai, selain juga masih terbatasnya bahan ajar.

“Sebenarnya budaya Mentawai itu seperti ekskul, dengan dasar pengajaran  SK Pemkab Mentawai, diberikan dia prioritas dalam hal pembelajaran di semua tingkat sekolah yang ada di wilayah Mentawai. Tapi kendalanya  masih kesulitan mencari bahan ajar, dan juga  kesulitan mencari guru  yang benar-benar  memahami budaya Mentawai,” kata Lauren   di Tuapeijat, Senin, (9/12).

Lauren mengatakan pelajaran muatan lokal budaya Mentawai sampai saat ini masih diajarkan kepada siswa-siswi  dari kelas IV sampai kelas VI SD khususnya di beberapa sekolah di pulau Siberut, " meski tidak semua SD di Mentawai, tapi pelajaran Budaya Mentawai ini masih tetap diajarkan di pulau Siberut, seperti di Munthe, Matotonan dan beberapa sekolah lainnya," ujar Lauren.

Lauren menyebutkan, kedepan pihaknya akan mengusulkan adanya rekrutmen khusus untuk guru pengajar budaya Mentawai, sedangkan untuk bahan ajar budaya Mentawai tingkat SMP sampai saat ini masih dalam proses menyangkut penyampaian materi yang memuat konten budaya asli Mentawai.

Untuk memaksimalkan peningkatan pendidikan budaya Mentawai kepada siswa-siswi, menurut Lauren harus ada dukungan dana dalam arti anggaran guna memvalidasi data di lapangan, apalagi mengingat  kondisi geografis Mentawai menjadi suatu kendala dalam melakukan pengumpulan data, misalnya mengenai jumlah peratan tradisional Mentawai dalam sebuah uma. Menurutnya ada 11 kebudayaan yang ada di Mentawai, sesuai dengan Undang-Undang No. 5 tahun 2017, salah satunya kesenian.

“Dari 11 itu salah satunya kesenian, kesenian itupun belum diuraikan. Bagaimana menguraikannya, tentu kita dalam konteks kajian, harus kroscek ke lapangan, misalnya lagu atau urai Sikerei sekian, bagaimana pembelajarannya, termasuk pakaian adat yang kemaren di lakukan lokakarya,” kata Lauren.

Pendidikan Budaya Mentawai yang diberikan oleh guru kata Laurrn merupakan pengenalan nama-nama alat tradisional Mentawai, seperti nama keranjang, luat atau kabit (cawat). selain pengenalan nama-nama alat tradisional juga siswa-siswa langsung melihat bentuk atau mempraktekkan langsung cara pembuatannya.  (Suntoro)

Aparat Pemerintah Desa Tuapeijat saat mendatangi salah satu Resort di daerah setempat

SASARAINAFM.COM │ TUAPEJAT- Aparatur pemerintah Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara turun ke sejumlah akomodasi perhotelan atau resort yang ada di se jumlah pulau-pulau kecil di wilayah Desa setempat baru-baru ini, guna memungut dan mengingatkan pihak resort terkait tagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Kepala Desa Tuapeijat, Pusuibiat menyebutkan bahwa pihak pemerintah Desa secara inisiatif melaksanakan kegiatan tersebut, karena mengingat semakin berkembangnya  akomodasi perhotelan khususnya resort di wilayah Tuapeijat.

" Kegiatan ini sebetulnya dalam rangka melakukan pendekatan kepada pihak resort di pulau-Pulau kecil yang ada di wilayah Tuapeijat, kemudian kita mengingatkan pajak bumi dan bangunan, " terang Pusuibiat kepada wartawan, Senin (09/12) di Tuapeijat.

Ia menyebutkan sedikitnya pada hari pertama, kata Pusuibiat ada 6 resort atau villa yang sudah didatangi, dari 6 akomodasi perhotelan tersebut hanya dua pemilik resort yang bisa ditemui selebihnya sedang tidak berada di tempat.

" Waktu kita survey hanya ada dua resort yang ada pemiliknya, selebihnya hanya ada kru, tetapi sebagian sudah membayar pajak dengan cara menyetorkannya langsung ke bank, dan memperlihatkan bukti setor," paparnya.

Ia menyebutkan masih ada sejumlah villa atau resort yang belum didatangi untuk mengingatkan dan men-sosialisasikan pajak bumi dan bangunan, kedepan pihak akan mendatangi kembali resort yang belum ditemui. (Red)

Diberdayakan oleh Blogger.

PERISTIWA

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

SOSOK