Update Real Count Pilpres 219

Photobucket
Jakarta - Data yang masuk ke Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU sudah mencapai 90%. Sejauh ini, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan selisih 11%. Dilihat dari situs pemilu2019.kpu.go.id, Senin (20/5/2019), pukul 09.00 WIB, data yang sudah masuk berasal dari 738.229 TPS (90,76400%). Total ada 813.350 TPS pada Pemilu 2019. Berikut ini real count KPU berdasarkan data yang telah masuk: 01. Jokowi-Ma'ruf 77.375.524 suara (55,63%) 02. Prabowo-Sandiaga 61.709.353 suara (44,37%)

Sabtu, 03 November 2018


SASARAINAFM.COM, MUNTEI - Kepulauan Mentawai selain terkenal dengan ombak dan keindahan alamnya, juga kaya budaya yang berbeda dengan pulau-pulau lain di Nusantara. Salah satu kekayaan Mentawai yang belum banyak diketahui semua orang yakni kekhasan kulinernya yaitu ulat sagu ("Batra" dalam bahasa Mentawai).

Kuliner khas Bumi Sikerei yang bisa dikatakan kuliner ekstrem ini ternyata sangat diminati pengunjung Festival Pesona Mentawai (FPM) 2018.

Hal itu dikatakan salah satu pedagang kuliner khas Mentawai yang tidak mau menyebutkan namanya itu saat dimintai keterangan Jum'at (2/11), "iya peminat batra ini cukup banyak" katanya singkat..

Warga Desa Muntei yang ternyata tergabung dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Silibet Sibau Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) itu tidak hanya sendiri membuka stand kuliner lokal khas Mentawai. Dia dibantu oleh 19 orang  anggota kelompoknya.

Bahkan dalam sehari, dirinya bersama dengan anggota kelompoknya mampu menjual 50-70 tusuk Batra panggang dengan harga Rp.10.000/tusuk.

Jumlah itu belum termasuk mereka yang makan di tempat. Tak jarang pula, pembeli harus kecewa lantaran Batra panggang keburu habis.

Kuliner yang satu ini,  selain tidak lazim dikonsumsi, bisa dibilang cukup “ekstrim”. 
Sesuai dengan namanya ulat sagu berasal dari pohon sagu.

Proses Pengambilan ulat sagu atau Batra dari batang pohon sagu biasanya dengan menggunakan alat tradisional seperti baliok (kapak khas Mentawai) untuk membelah batang pohon sagu. Hal ini dikarenakan ulat sagu biasanyanya akan berada pada bagian dalam batang pohon sagu yang sudah ditebang dan dibiarkan membusuk selama 2-3 bulan..

Bagi masyarakat Mentawai, ulat sagu atau Batra bisa dimakan secara langsung tanpa dimasak lebih dahulu. Hal ini sudah menjadi hal yang lumrah sejak zaman dulu kala nenek moyang orang Mentawai.

Selain dimakan mentah juga bisa disajikan dengan terlebih dahulu direbus,  digoreng, atau dicampurkan dengan masakan tumisan sayur.

Seperti diketahui kandungan gizi dari  ulat sagu atau Batra itu sendiri ditiap 100 gr  yang dimasak mengandung  protein sekitar 9,34%, juga terdapat beberapa kandungan asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%).

Selain menjual Batra panggang, kelompok yang tergabung dalam PKBM Silibet Sibau KUM itu, juga menjajakan sagu kapurut, teggi' (keladi rebus), keripik singkong, keripik pisang dan kuliner khas Mentawai lainnya. (Nbl)

0 komentar:

Posting Komentar

Photobucket

Radio Visual

SIARAN SUARA NUSANTARA LPPL RADIO INDONESIA