Lintas Berita Asosiasi LPPL Sumbar

Jumat, 23 Agustus 2019

Rijel Samaloisa didampingi Motisokhi Hura saat sambangi LPPL Radio Sasaraina FM Mentawai
SASARAINAFM.COM | TUAPEIJAT -
Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) "APMD" Yogyakarta pada tahun akademik 2020 janjikan beasiswa kepada  86 calon mahasiswa pilihan dari 43 desa, dengan masing-masing desa terdiri dari 2 orang calon mahasiswa  di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang mendapatkan jatah belajar pada program beasiswa ke Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa di Yogyakarta itu.

Rijel Samaloisa, salah seorang dosen
STPMD "APMD" Yogyakarta saat melakukan wawancara di radio Sasaraina FM, Jumat, (23/8) menyebutkan pemberian beasiswa itu merupakan komitmen dari kerja sama antara STPMD "APMD" Yogyakarta dan pemkab Mentawai yang telah disepakati  pada Maret 2019 lalu saat Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet melakukan  lawatan di STPMD "APMD" Yogyakarta.

"Untuk menjawab kurangnya SDM yang unggul di pedesaan Mentawai, pihak kampus merespon bersedia membangun kerjasama mendatangkan mahasiswa dari Kepulauan Mentawai untuk kuliah di  (STPMD) "APMD" Yogyakarta melalui MOU yang akan dijalankan 2020," ujar Rijel.

Rijel Samaloisa yang pernah duduk sebagai wakil bupati Mentawai pada periode  2011-2016 mendampingi Bupati Yudas Sabagalet itu menuturkan sesuai visi misi Presiden RI Jokowi, bahwa negara bisa maju kalau  pembangunan dimulai dari tingkat pemerintahan terendah yaitu pemerintah desa.
" desa maju negara bisa maju, ini sesuai visi misi Presiden RI Jokowi, membangun negeri dari pinggiran," tegas Rijel Samaloisa, pria kelahiran Bosua, Sipora Selatan pada 8 Mei 1972, dan telah menyandang gelar Doktor dari UGM beberapa tahun lalu.

Program studi di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) "APMD" Yogyakarta yang dapat dipilih menurut Rijel  diantaranya, Prodi pembangunan masyarakat desa D3, prodi ilmu komunikasi S1, prodi ilmu Sosiatri S1), prodi ilmu Pemerintahan S1, dan Magister ilmu pemerintahan S2 (pasca sarjana).
"Keunggulan kampus spesifikasinya memang desa dan terlibat dalam perancangan UU yang memberikan hak politik pada desa untuk menyusun pola kebijakan dan anggaran pembangunan masing-masing tanpa intervensi pemerintah sehingga perencanaan sinkron dengan kondisi di desa," papar Rijel.

Selain itu, kata Rijel, karena kampus ini terdiri dari mahasiswa majemuk, mereka bisa belajar beragam budaya dan hidup berdampingan dalam kebhinekaan serta memiliki jaringan yang banyak untuk saling melengkapi.
Rijel berharap mahasiswa asal Mentawai memiliki komitmen untuk kembali pulang membangun daerahnya agar bisa maju.

Sementara itu Motisokhi Hura, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mentawai mengatakan
Para mahasiswa Mentawai yang bakal menerima beasiswa itu nantinya setelah tamat  akan kembali ke kampung halaman masing-masing untuk membangun daerahnya.

"Nanti, masing masing desa akan mengutus kandidatnya yang baru tamat sekolah dan menurut penilaian desa mampu. Kemudian akan diseleksi lagi pihak kampus di Tuapejat," ujar Motisokhi

Terkait pembiayaannya, kata Motisokhi, bisa dari Pemda ataupun ADD yang secara regulasi dimungkinkan untuk membangun SDM desa. (KS)


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

PERISTIWA

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

SOSOK