Jumat, 22 Februari 2019


Kepala SMAN.2 Sipora, Helimursida
SASARAINAFM.COM, TUAPEJAT- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tak lagi membiayai anak-anak kelas unggul yang ada di Sekolah Menengah Atas Negeri(SMAN) 2 Sipora sejak tahun 2017 lalu.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Sipora, Helimursida saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (22/2). Ia mengatakan bahwa sebelum SMA dipindahkan ke provinsi, kelas unggul yang terdiri dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sisoal (IPS), masih ditanggung oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat..

“Kalau sekarang tidak lagi, kalau dulu kelas unggul itu masih dibiayai Pemda, pengurusnya dari dinas terkait waktu itu, namun setelah pengelolaan SMA ini pindah ke provinsi, tidak ada lagi,” kata Helimursida..

Lebih lanjut dijelaskannya, kelas unggul ini mulai sejak tahun 2014 sampai 2017 lalu, kurang lebih tiga tahun berjalan akhirnya SMA ditarik oleh Pemerintah Provinsi hingga saat ini.

“Selalu diurus sama orang dinas, pagi diantar sarapan anak-anak, sekitar jam 10.00 wib diantar lagi makanan ringan mereka, kalau sudah siang diantar makan siangnya, kemudian kembali makanan ringan  sore dan makan malam selalu diantar,” ujar Helimursida

Ia menyebutkan kemungkinan Pemprov tidak memiliki biaya untuk anak-anak kelas unggul dan juga pihak Pemda Mentawai tidak melimpahkan pembiayaan anak-anak ke Pemprov atau Disdikbud Provinsi.

 “Kalau sekarang masih ada lokal unggul, tapi bukan lagi biaya dari Pemda, itu biaya pribadi lagi, cuma kita masih menampung anak-anak yang tidak punya keluarga di sini (Tuapejat), jadi kita sediakan tempat dari pada kosong begitu saja kan ruangannya, ya kita manfaatkan untuk anak-anak yang sekolah disini dari jauh, seperti Siberut atau Sikakap,” ungkap Helimursida.

Hal ini dibenarkan pengawas asrama kelas unggul, Aris Rusman, dia menyampaikan bahwa sebelumnya anak-anak SMA unggul hanya tinggal sekolah saja dan tidak perlu memikirkan uang makan dan biaya lainnya, sebab semua sudah ditanggung oleh Pemda Mentawai.

“Kalau dulu mereka tinggal sekolah, tidak perlu mikir makan dari mana atau biaya lainnya, semuanya disediakan oleh Pemda, tapi sayang sekali sejak pindah SMA ke Provinsi tidak ada lagi pembiayaan,” ujarnya.

Saat ini anak-anak SMA unggul yang tinggal di asrama kurang lebih 16 orang, 11 dari itu merupakan laki-laki sisanya perempuan. Sementara anak-anak yang tinggal di asrama harus memasak sendiri dan menunggu kiriman makanan dari orang tuanya di kampung halaman. (Suntoro)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

PERISTIWA

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

SOSOK