Selasa, 23 Oktober 2018


SASARAINAFM.COM, TUAPEJAT — Sebelum dipatenkan pembuatan pakaian motif batik Mentawai harus betul-betul memiliki makna dan makna  ciri khas tersendiri, untuk itu pihak pembantik harus memahami budaya Mentawai.

Hal itu dikemukakan oleh Sekretaris Dinas Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Mentawai Roger Saleleubaja, pada Selasa (23/10) di ruang kerjanya.

"Kita sangat mengapresiasi semangat kawan-kawan pembatik yang sudah berinovasi menciptakan pakaian batik Mentawai, namun yang perlu kita pahami ciri khas batik kita, harus berbeda dengan Daerah lain, " paparnya..

Ia menyebutkan saat ini telah terbentuk dua kelompok pembantik di Mentawai, satu di Desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara dan satu lagi di Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, dimana pembatikan dilakukan secara manual atau batik tulis.

Untuk menentukan motif batik yang sesuai dengan ciri khas Mentawai kata Roger harus ada keterlibatan instansi terkait dalam hal ini Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Mentawai.

"Batik ini harus kita tentukan motifnya, misalnya pakaian batik pria motifnya tato dan untuk wanita motif daun yang ada kaitannya dengan budaya Mentawai setelah itu baru kita patenkan agar tidak dijiplak oleh daerah lain, " timpalnya.

Ia menyebutkan saat ini sudah ada kain batik tulis Mentawai terpajang di Craft Center atau balai pusat pemasaran kerajinan Mentawai, dimana harganya beragam berkisar antara Rp 150 — Rp 200 per helai tergantung dasar kainnya.

"Bagi pengunjung yang datang ke Mentawai, tentu akan mencari cendra mata atau buah tangan saat pulang, bisa saja batik Mentawai jadi oleh-olehnya, " ujarnya. (Red)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

PERISTIWA

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

SOSOK