Iklan

Kemenparekraf Pamerkan 8 Karya Terbaik Pelaku Ekraf Subsektor Kriya di Yogyakarta

Minggu, 22 November 2020, November 22, 2020 WIB Last Updated 2020-11-22T15:58:14Z

Salah satu karya produk terbaik dari ekonomi kreatif (ekraf) subsektor kriya sebagai salah satu bentuk upaya dukungan pemerintah dalam meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar global.

SASARAINAFM.COM │ YOGYAKARTA -
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) memamerkan karya-karya terbaik dari 8 pelaku ekonomi kreatif (ekraf) subsektor kriya sebagai salah satu bentuk upaya dukungan pemerintah dalam meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar global.

 

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak dalam pernyataannya di Yogyakarta, Sabtu (21/11/2020) menjelaskan, Kemenparekraf menggelar kegiatan “Aksilirasi Unjuk Karya Inkubasi Kriya Yogyakarta” yang merupakan program untuk para pelaku ekraf khususnya subsektor kriya yang dibuat dan disusun dalam menciptakan karya-karya lokal yang mengangkat agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.

 

“Selama ini produk ekraf, kita bawa keluar untuk mendatangkan devisa masuk. Dengan kita beri pelatihan dan pendampingan, sehingga bisa membuat produk yang berkualitas, ujungnya, kita berharap mendorong ASPA (average spending per-arrival) wisatawan lebih tinggi lagi. Hal tersebut sesuai arahan Menparekraf untuk mendorong quality tourism. Lantaran wisatawan yang berkualitas tentu memiliki daya beli yang tinggi,” ujarnya.

 

Saat kegiatan Aksilirasi Unjuk Karya Inkubasi Kriya Yogyakarta yang digelar di Arkadia, Jl. Prawirotaman No.16, Yogyakarta, hadir pula perwakilan dari ke-8 pemegang merek pelaku ekraf seperti Selokeji, Watubhumi, Ramashinta, Sangkawan, Oriniki, Nafla, Ku.ku.pu, dan Siligri.

 

Selain itu hadir pula, Sekretaris Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Yuke Sri Rahayu, Sekjen Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII) Fitorio Leksono, serta perwakilan dari PHRI Yogyakarta, asosiasi desain produk, asosiasi desainer interior, asosiasi arsitek, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DI. Yogyakarta, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Magelang, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Magelang, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, dan para stakeholder.

 

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Yuke Sri Rahayu menjelaskan, 8 pelaku ekraf (Batik Kayu, Kulit, Perak dan Batu Pahat) yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah sebelumnya mendapatkan pelatihan melalui workshop kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan selama 1,5 bulan dimana pelaku ekraf kriya akan membuat desain baru didampingi oleh desainer anggota ADPII Yogyakarta.

 

“Selain meningkatkan kualitas dan inovasi produk baru sampai ekosistem terbentuk dan pelakunya bisa mandiri. Kegiatan inkubasi dan pendampingan pelaku ekraf ini merupakan program prioritas sektor ekraf, dan sangat sinkron dengan apa yang sedang digaungkan pemerintah yaitu Bangga Buatan Indonesia,” ujarnya.

 

Sementara itu, Sekjen ADPII Fitorio Leksono menambahkan, pihaknya selalu siap mendukung pelaku ekraf di Indonesia agar bisa bersaing dikancah global dan tidak hanya terkenal sebagai vendor/supplier saja.

 

“Kami selalu siap mendukung para pelaku ini memiliki produk, brand lokal yang juara, bisa menjadi tuan rumah dan duta besar bagi karya-karya Indonesia di dunia. Kami berharap kegiatan ini akan menjadi babak baru bagi pelaku kreatif untuk terus meningkatkan kualitas produk,” ujarnya.

 

Pada kesempatan yang sama, Agus perwakilan dari Sangkawan menjelaskan, nama Sangkawan merupakan kepanjangan dari Sanggar Punokawan yang memproduksi batik kayu berbahan baku kayu jati dengan produk yang dihasilkan berupa tas, clutch, dan tempat kosmetik.

 

“Kami ingin mengembangkan dan mengombinasikan kayu dan batik dengan proses manual menggunakan batik tulis. Muncul ide seperti tas, clutch bag, dan tempat kosmetik yang dibandrol dari harga Rp250 ribu sampai Rp1 juta. Semua produk menggunakan kayu jati yang setelah dibentuk baru dikombinasikan dengan batik. Kami juga menjaga keberlangsungan, dengan cara selalu menanam lebih banyak setelah kami menebang satu pohon jati sebagau bahan baku,” katanya. (dio)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kemenparekraf Pamerkan 8 Karya Terbaik Pelaku Ekraf Subsektor Kriya di Yogyakarta

Terkini

Topik Populer

Iklan