Our social:
Photobucket
Loading...
LPPL Radio Sasaraina Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat │Media Informasi dan Edukasi Masyarakat Mentawai │Jl. Raya Tuapeijat KM.2 Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai │Interaktif +62 82390747044 │Whatsapp +628116642768 │e-mail : sasarainaradiofm@gmail.com │website : www.sasarainafm.com │Matikan player audio streaming disamping, bila Anda ingin mendengar dan melihat live video streaming │

Di Tuapeijat, Harga Kebutuhan Pokok Mulai Beranjak Naik

Kedai Reza di Tuapeijat
SASARAINAFM.COM │TUAPEIJAT  - Harga komoditas pangan di desa Tuapeijat kecamatan Sipora utara mengalami kenaikan. Hal ini terjadi dan dirasakan konsumen sejak minggu lalu.

Berdasarkan pantauan di kedai Reza salah satu toko kelontong di TuapeIjat, beberapa kenaikan harga bahan sembako diantaranya, gula dijual seharga Rp,18.000 per kilogram dari Rp,16.000, bawang bombai Rp, 80.000  dari harga biasa Rp, 40.000 per kilogram, telur Rp, 46.000 dari  Rp, 44.000 per 30 butir.

Kemudian, buah apel naik menjadi Rp,50.000 dari Rp,35.000 per kilogram, pir Rp, 30.000 per kilogram dari Rp,25.000.

Sementara harga bawang putih sudah normal saat ini yakni Rp,48.000 dari Rp,60.000 minggu lalu. Selain itu harga Jahe Rp 36.000 per kilogram masih bertengger pada harga normal.

Reza pemilik toko mengaku bahwa harga komoditas ekspor mengalami kenaikan selain karena komoditas susah, pasokan yang masuk juga susah.

Selanjutnya harga sayur buncis masih normal yaitu Rp,16.000. Cabe jawa naik menjadi Rp,46.000 per kilogram dari Rp,40.000.

"Untuk sayur lokal tidak terlalu naik.  Cabe di Jawa naik karna banjir di jawa. Kalau dari Solok tidak mencukupi untuk pasokan, selain itu pedas dan warga di sini tidak suka,"papar Reza, Rabu (11/3/2020).

Bawang merah Solok naik Rp,34.000 per kilogram ukuran menengah, minyak manis Rp, 14.000 dari Rp, 12.000, minyaksari murni Rp,14.000 per liter. kentang naik menjadi Rp,16.000 dari Rp  12.000.
"Kenaikan harga terasa jauh sekali sejak minggu lalu hingga saat ini. Mau tidak mau kita tetap membeli karena kebutuhan," ungkap Liza (43) salah seorang pembeli.

Ia berharap kenaikan harga tifak terlalu signifikan karena tidak imbang dengan penghasilan masyarakat biasa. (KS)