Jumat, 22 Maret 2019

Kayu Menumpuk untuk Bahan Bakar PLTBM Saliguma

SASARAINAFM.COM, SALIGUMA - Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Bambu (PLTBm) Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, saat ini sudah beroperasi sejak Desember 2018, kendati begitu masih menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar.

“Sudah lumayan lama hidupnya, sejak bulan Desember 2018 sudah mulai dicoba, tapi masih menggunakan bahan bakar solar sampai saat ini,” kata Kepala Desa Saliguma, Nicolaus saat ditanya di kediamannya, Selasa (19/3).

Ia juga menyampaikan, penggunaan bahan bakar kayu atau bambu, saat ini biomassa Saliguma belum menggunakannya, pernah dicoba dua hari menggunakan bahan bakar kayu, namun tidak berlanjut sebab bahan bakar kayu yang disediakan masyarakat Saliguma belum mencukupi, selain itu bahan bakar kayu juga saat itu belum kering dan masih basah.

“Pernah dicoba kalau tidak salah hanya dua hari, tapi tidak berlanjut, selain bahan bakar kayunya terbatas, kebetulan memang kayu-kayu yang dikumpulkan warga masih kondisi basah. Kalau basah tentu gas yang dihasilkan oleh kayu berkurang,” lanjut Nicolaus

Meski hanya menggunakan BBM solar, masyarakat sudah mulai terbantu dengan penerangan lampu biomassa ini, sebab sejak dulu warga Desa Saliguma tidak pernah menikmati lampu seperti biomassa atau Perusahaan Listrik Nasional (PLN), meskipun hanya hidup selama enam jam, mulai dari pukul 18.00 Wib sampai pukul 24.00 Wib.

“Memang masih enam jam hidupnya, karena keterbatasan bahan bakar solar juga kan, mereka masih menghemat, mungkin kalau sudah menggunakan bahan bakar kayu atau bambu itu sudah bisa 24 jam. Untuk saat ini petugas biomassa kita disini (Saliguma) hanya orang-orang kita, kalau Manajernya sedang tidak di tempat,” unjar Nicolaus.

Sementara salah seorang warga Saliguma, Meon menyampaikan dengan adanya lampu biomassa saat ini dia sangat bersyukur, sebab sudah terbantu penerangan di Desa Saliguma, dulunya hanya menggunakan lampu togok atau lampu minyak, sekarang sudah kampung halamannya sudah terang benderang.

“Walaupun cuma hidupnya enam jam, kami sudah bersyukur, terutama saya sendiri, karena dengan adanya lampu seperti ini, kita bisa terbantu baik dari segi pekerjaan maupun lainnya, misalnya mengetam kayu sudah bisa meskipun malam-malam,” ungkapnya.

Namun Meon menyayangkan lampu biomassa, meterannya masih sering berbalik saat beban atau penggunaan terlalu banyak, sebab saat ini meteran lampu yang dipasang pihak biomassa masih subsidi yakni 450 Watt, dengan muatan bola lampu sebanyak tiga buah saja, jika ditambah dengan alat elektronik lainnya maka akan mudah berbalik.

“Apalagi yang ada Televisi, lebih parah lagi tidak sanggup arusnya,” kata Meon.

“Belum lagi menggunakan mesin pompa air, ini kan hidup biomassanya malam, jadi memang banyak bebannya, belum lagi penerangan, pompa air, menggosok kain, sebentar-sebentar balik meterannya,” tambahnya.

Namun sampai saat ini meski lampu PLTBm sudah menyala belum ada ketentuan pembayaran bagi masyarakat sebab belum ada keputusan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kepulauan Mentawai memberikan beban yuran, selain itu peresmian PLTBm belum dilakukan oleh pihak bersangkutan beserta Pemda Mentawai. (Suntoro)

0 komentar:

Posting Komentar

PEMBANGUNAN
KESEHATAN
PERISTIWA
Diberdayakan oleh Blogger.
Photobucket
JURNALISTIK
SOSOK