Lintas Berita Asosiasi LPPL Sumbar

Senin, 24 September 2018


SASARAINAFM.COM, TUAPEJAT - Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, ajak peserta Worshop Bahan Ajar Muatan Lokal untuk menulis, terutama mengenai Budaya Mentawai.

“Saya harap ibu Tarida sudah mulai menulis, tulis saja baik di media lokal  atau di majalah - majalah lain, untuk di Pemerintah Daerah  ada Majalah Sasaraina, baik pak Efhorus siapa saja boleh menulis, tulis saja tentang Budaya, biar berproses dia”. Kata Yudas pada kegiatan Workshop Bahan Muatan Lokal Tingkat SMP Kabupaten Kepulauan Mentawai, di Tuapejat, Senin (24/9)..

Tak hanya itu kepada guru - guru yang ikut berpartisipasi tentang Budaya Mentawai boleh menulis, apapun tentang budaya Mentawai bisa menulis, yang terpenting berproses, karena menurut Yudas, budaya itu adalah cara hidup yang bekembang yang dimiliki oleh semua kelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi.

“Cara hidup, berarti tidak lepas dari kehidupan mau kemari mau kemana tidak lepas, karena dia cara hidup, kalau orang Mentawai memakai budaya orang lain sama dia menggantung diri tidak punya pijakan, tetapi bergantung dia”. pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Mentawai, Sermon Sakerebau menyampaikan penerapan Budaya Lokal atau Budaya Mentawai di dunia pendidikan perlu ditingkatkan, karena menurutnya selama ini budaya Mentawai sudah mulai hilang.

“Kenapa pendidikan kebudayaan Mentawai ini, kenapa bukan pendidikan lain yang kita harapkan di dunia Sekolah, karena menurut kami pada saat ini masyarakat kita budaya Mentawai sudah mulai pudar, setelah pudar samar - samar lalu hilang, kita ambil contoh dari sisi bahasa Mentawai yang mulai hilang, itulah pentingnya budaya Mentawai perlu ditingkatkan”. ujar dia

Sermon menjelaskan bahasa yang dulunya sering digunakan sebagai sapaan kini mulai hilang, ia mencontohkan panggilan bajak atau meinan, sudah mulai diganti dengan bahasa Indonesia o’om atau tante, juga panggilan kebbu dengan abang, hal ini menurut dia perlu diluruskan untuk generasi muda kedepan.

Tak hanya itu, kata Sermon Titiboat  atau cerita rakyat Mentawai,  perlu dikembangkan kepada anak - anak, dimana Titiboat sudah mulai hilang dan zaman sekarang orang tua lebih suka menonton cerita di TV bersama anak - anaknya.

“Titiboat ini harus dipertahankan juga, bagaimana munculnya Teteu, tatoga siburuk atau anak anak dulu tahu tentang itu. Anak - anak sekarang saya yakin tidak mengerti lagi tentang itu”. ujarnya..

Lebih lanjut dikatakan Sermon, nenek moyang orang Mentawai dulu, kalau ditanam Katsaila, berarti didalam Uma atau Suku tersebut ada Pesta atau Punen, kalau sudah ditanam Katsaila, orang - tidak bisa lagi lalu - lalang di dalam Uma tersebut, artinya Punen sedang berlangsung.

“Nilai - nilai seperti ini perlu diangkat dan akan menjadi Bahan Ajar untuk diajarkan kepada anak - anak didik kita. Saya pikir kita belum terlambat untuk membahas hal ini, itulah yang melatar belakangi budaya ini kita ajarkan ke tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Kalau ini kita ajarkan kepada orang tua kita saya rasa ini mubajir, namun kita ajarkan kepada generasi muda kita, seterusnya bisa mereka kembangkan dalam kehidupan mereka”. tutupnya.

Peserta yang mengikuti Workshop tersebut dari guru - guru SMP kabupaten Kepulauan Mentawai sebanyak 20 orang. (Suntoro)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

PERISTIWA

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

SOSOK