Senin, 27 Agustus 2018


SASARAINAFM.COM, TUAPEJAT – Erda, begitu begitu sapaan akrab Erdawati wanita kelahiran Sioban, 24 juli 1984, ia merupakan salah satu Pegawai Kontrak di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, ia bekerja di Instansi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Mentawai, Km 7, Sipora Utara, meski bekerja sebagai PH, ia ingin sekali membuka lapangan kerja dengan membatik khas Mentawai.

Seperti yang kita tahu bahwa belum ada satupun batik hasil buatan Mentawai, untuk itu Erda berniat mengembangkan ilmu yang ia peroleh selama pelatihan di Balai Pelatihan membatik di Padang. Meski gambar yang dihasilkan masih sederhana namun ia bercita – cita untuk meningkatkan cara membatiknya.

“Sebelumnya kan kita ada pelatihan di Balai Pelatihan Padang, waktu itu kita 70 orang seluruh kabupaten Kepulauan Mentawai selama 18 hari, jadi kami posisinya diajarkan cara membuat batik tulis, batik cap, dan batik kontenporer”. Kata Erda kepada Sasaraina, pada Senin (27/8/2018).

Erda menjelaskan tahap-tahap membatik khas Mentawai, sedikitnya ada beberapa tahap membuat batik, belum termasuk proses penjemuran hingga kering. Proses pertama diawali dengan lengreng atau mencanting. Mencanting adalah tahap menggambar sketsa. Sketsa digambar pada kain putih menggunakan pensil atau alat tulis halus lain. Fungsinya hanya untuk membuat garis pandu dan menampilkan sekilas motif kain. Setelah lengreng atau pencanntingan, dilanjutkan dengan proses pemberian warna.

“Kalau saya ini bikin batik tulis, tapi kalau ada pencetak capnya, itu lebih mudah lagi dalam pembuatan batik motif Mentawai, karena tinggal cap saja sketsanya sudah ada, kemudian dikunci dengan waterglass biar tidak luntur dia, setelah dikunci dengan waterglass didiamkan satu malam, setelah itu besoknya baru dicuci menggunakan air dengan soda guna menghilangkan lilinnya gitu”. Katanya.

Lebih lanjut ia sampaikan, kalau untuk kontenporer itu perpaduan antara batik tulis dan cap. Namun disebutnya saat ini menjadi kendala kelompoknya adalah tempat untuk membuat batik Mentawai belum ada. Saat ini ia membuat batik tulis bersama kelompoknya di kawasan Sipora II, bersama teman – temannya saat ini masih menompang di Balai lama Desa Sidomakmur, ia juga mengumpulkan yuran bersama kelompoknya untuk membeli keperluan lainnya.

Saat ditanya mengenai motif yang akan dibuat dalam batik Mentawai tersebut ia mengaku tidak hobby melukis namun untuk membuat batik tentu sangat diwajibkan dan mahir melukis, baik membuat gambar bunga anggrek Mentawai, tato sikerei, jarai, gambar kura – kura, gambar monyet atapun gambar lainnya.

“Sebenarbya saya tidak pintar melukis, tetapi gimana lagi sementara kita membuat batik harus bisa melukis, makanya saya mau mencoba untuk merekrut teman – teman atau adak- adek yang bisa melukis, agar nanti bisa menghsailkan gambar batik yang bermotif Mentawai itu bagus”. Tuturnya.

Ia berharap kegiatannya sebagai pembatik tidak sia – sia dan tidak hanya sekedar sementara namun berkelanjutan, sehingga menambah ekonomi masyarakat terutama bagi yang pengangguran. Hingga saat ini ia memiliki 20 orang kelompok pembuat batik Mentawai, tak ada niat lain dari Erda, ia hanya berharap untuk membuka lapangan kerja bagi kaum wanita bahkan pria yang ingin membantunya untuk menggambar atau melukis serta memberikan ide – ide kepada kelompoknya, meki sebelumnya ia sempat mencari anggota kelompok membatik, karena saat pelatihan di Padang yang ikut dari Sipora utara kebanyakan anak – anak muda baru tamat SMA, dan saat ini mereka sedang melanjut, shingga ia harus mencari anggota baru.

Kendala yang dihadapinya saat ini bahan – bahan masih didatangkan dari luar termasuk tinta, serta biaya pembelian barang tersebut masih belum cukup. “Kalau bahan – bahannya itu masih dari luar, kita berharap ada dari lokal juga, terutama tinta menyangkut limbah tinta yang dipakai memiliki zat kimiah yang sangat berbahaya bagi kesehatan, tapi kalau lokal atau dari alam tentu sangat rama lingkungan. Untuk modal kebetulan masih ada beberapa tinta bubuk dari padang waktu pelatihan, yang perlu kami beli sekarng ini waterglass, itu termasuk mahal”. Ungkap erda.

Hingga saat ini ada sekitar 70an batik sudah dibuat oleh kelompoknya, dan dijual Rp.150 ribu perhelai, dan beberapa batik sudah laku dijual di Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Kepulauan Mentawai. Ia juga berharap dari pihak terkait untuk tidak lepas tangan dan selalu memberikan bimbingan kepada kelompoknya. (Suntoro)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

PERISTIWA

PEMBANGUNAN

KESEHATAN

SOSOK